Investigasi KM50Laporan KhususNasional
Trending

2. Investigasi Independen Jurnalis di KM50

Munculnya Investigasi Independen, karena rasa ketidak puasan masyarakat dan berbagai elemen lain dengan keterangan pers yang dipaparkan Kapolda beberapa waktu lalu.

Alat bukti dan kronologi terkesan dipaksakan dan direkayasa, terbukti dengan berubah ubahnya pernyataan Polri dalam beberapa hal.

Maka tidak heran jika akhirnya masyarakat mencari tahu sendiri kejadian yang sebenarnya, bahkan menyusuri hingga ke lokasi KM50. Begitu pula dengan Jurnalis, walau banyak ancaman dan cacian yang dilontarkan para penjilat Rezim.

Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mendorong wartawan untuk melakukan penelusuran dan investigasi guna mengungkapkan kasus kematian enam orang pengawal HRS.

Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Ilham Bintang menegaskan bahwa pihaknya perlu membuat pernyataan tersebut untuk mengurangi keraguan wartawan dalam mengungkap kebenaran, terkait bentrokan berdarah tersebut.

“Pernyataan ini perlu untuk mengurangi keraguan wartawan dan media dalam melakukan investigasi terhadap peristiwa tol Cikampek,” katanya pada Selasa, 8 Dessember 2020 di Jakarta.

Disampaikan Ilham, bahwa langkah wartawan untuk mengungkap peristiwa berdarah yang terjadi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 tersebut untuk menjalankan fungsi pers sesuai UU Nomor 40/1999 tentang Pers dan Kode Etik Wartawan Indonesia.

Polri panik dengan adanya Investigasi Independen.

Pernyataan Polri terkait Pembantaian KM50 mulai berubah ubah sejak ada nya Investigasi Independen dari banyak Jurnalis, dimana dalam Investigasi tersebut ditemukan hal yang bertolak belakang dengan keterangan Polri.

Wartawan senior Edy Mulyadi dari Forum News Network yang membeberkan hasil investigasinya dilokasi penembakan 6 anggota Front Pembela Islam, pengawal HRS pada Minggu (06/12/2020).

Edy Mulyadi dalam investigasinya yang diunggah melalui ‘Bang Edy Channel’ di Youtube pada Rabu (9/12/2020) mengatakan sempat mewawancari beberapa orang saksi yang melihat peristiwa di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

“Saya ada di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek saat ini dan menemui saksi yang berdiri dekat warung Dian. Saksi mata ini menjelaskan ada satu mobil dipepet,dipalang maksudnya. Polisi banyak banget, sejak sore udah banyak banget. Ada 10 mobil 3 diantaranya mobil patrol dan katanya sejak sore sudah ada polisi,” kata Edy .

Edy melanjutkan, saksi mata yang duduk 8 meter dari tempat kejadian mengatakan tidak ada baku tembak.

“Jadi kalau polisi bilang ada baku tembak, sekali lagi si saksi mata yang tidak mau ditampilkan nama dan wajahnya mengatakan cuma ada dua kali tembakan, tidak ada tembak tembakan,” ujarnya.

Saksi tadi mengatakan, lanjut Edy, yang menembak adalah polisi, karena orang yang di dalam mobil tidak bawa senjata, karena tidak ada tembakan balasan.

“jadi langsung dipalang gitu, dari depan nembak pake laras panjang

Saya tanya kamu liat pakai pistol apa laras panjang? Bener Laras panjang. Dan dia lihat dua orang langsung tewas di tempat,” kata Edy mengutip saksi.

Saksi juga menyebut polisi menembak ban kiri depan agar tidak kabur

Pembantaian terencana ?

“Nah saudara, kalo polisi menarasikan ada baku tembak, tidak ada baku tembak seperti keterangan Sekretaris FPI Munarman, Cuma ada dua tembakan. Tidak ada tembak menembak. Yang didalam mobil tidak menembak,” tambahnya.

Ditanya tentang samurai dan senjata tajam lainnya, saksi tidak mau memastikan, karena tidak melihat.

Menurut saksi, orang-orang yang melihat kejadian langsung diusir.

“Setengah jam datang ambulans. Dua mayat langsung dibawa dan 4 lainnya masih hidup dipindahkan ke mobil lain. Saksi melihat satu orang terpincang pincang ntah ditembak atau kenapa, dan dibawa pergi ntah kemana,” ujarnya.

Edi mengatakan ingin memastikan peristiwa yang terjadi di Jalan Tol Jakarta Cikampek KM 50 itu. Apakah benar cerita versi polisi sesuai yang disampaikan Kapolda Metro Jaya Fadil Imran atau yang disampaikan Sekretaris FPI Munarman dan Ketua Umum FPI Kyai Sobri Lubis

Dari beberapa kejadian dan keterangan, Edy menyimpulkan informasi dari polisi tidak akurat.

“Saya tidak berani bilang bohong tapi tidak akurat . Karena saya bicara dengan beberapa saksi tidak ada baku tembak Meskipun kejadian dinihari, jalur ini ramai dan tidak ada garis polisi. Yang ada polisi usir orang orang yang datang,” katanya.

Sekarang ini, lanjutnya, Komnas HAM dan berbagai lembaga yang konsern dengan Hukum dan HAM sudah bersuara, bahwa sudah ada abuse of power ada penyimpangan kekuasaan dan mereka menuntut dibentuknya tim pencari fakta independent bebas dari intervensi kekuasaan

“Kalau dikuntit, yang menguntit tidak ketauan tapi ini menguntit yang ada malah pembantaian dan pembunuhan, jadi bukan menguntit,” ujarnya.

Selanjutnya “Rintih kesakitan 6 Laskar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button