Catatan RedaksiHukumNasional
Trending

Bripka Cornelius, Jumawa bawa senjata merasa punya kuasa.

Pada tanggal 25/02/2021 dini hari sekitar pukul 02:00 WIB, Bripka Cornelius Siahaan Sat Reskrim Polsek Kalideres datang ke Kafe RM Cengkareng bersama temannya bernama Pegi. Ternyata kerja keras Polri dalam  memberantas minuman keras tidak memberikan pelajaran berharga kepada anggotanya sendiri.

Cafe RM.Jl. Outer Ring Road, RT. 04/06, Kel. Cengkareng Timur Kec. Cengkareng Jakarta Barat

Di satu sisi Polri banyak melakukan Gelar Operasi Miras, disisi lain ada oknum anggota Polisi yang masih suka menikmati minuman keras. Hingga mengganggu otak dan pikirannya, dan dengan senjata yang dibawanya sesuka hati menembak siapa saja yang bermasalah dengannya.

Kejadian bermula sekitar pukul 04:00 WIB ketika Kafe RM hendak tutup dan pelanggan lain sudah meninggalkan tempat, salah satu pegawai Kafe RM menyerahkan bill/tagihan sebesar Rp.3.335.000

Entah apa yang membuat Bripka Cornelius Siahaan ini marah dan tidak mau membayar tagihannya, mungkin karena mabuk dan sedang dalam pengaruh alkohol. Atau mungkin juga Bripka Cornelius Siahaan memang lagi tidak punya uang hingga menolak untuk membayar tagihan tersebut.

Pihak keamanan Kafe RM, Martinus Riski Kardo Sinurat yang juga seorang Pratu Kawal Denma Kostrad ini kemudian menegur Bripka Cornelius Siahaan agar membayar tagihan tersebut, namun akhirnya malah timbul keributan karena Bripka Cornelius Siahaan tetap tidak mau membayar tagihan Mirasnya.

Kemudian tanpa diduga Bripka Cornelius Siahaan marah dan mengeluarkan senjata api  kemudian secara beringas dan membabi buta menembak 4 orang yang berada di Kafe RM Cengkareng.

Setelah puas menembak dan tanpa merasa bersalah, Bripka Cornelius Siahaan kemudian keluar kafe sambil menenteng senjata api di tangan kanannya dan di jemput temannya dengan menggunakan Mobil.

Mereka yang tertembak adalah :

  1. Keamanan Kafe RM
    Nama : Martinus Kardo Rizky Sinurat
    Pangkat : Pratu
    NRP : 31130001640391
    Jabatan : Kawal Denma Kostrad
    Kesatuan : Kawal Denma Kostrad
  2. Feri Saut Simanjuntak (Waiter Kafe RM) – meninggal dunia
  3. Manik (Kasir Kafe RM) –  meninggal dunia
  4. Hutapea (Manager Kafe RM) – terluka dan masih dirawat

Irjen Fadil Imran juga meminta maaf.

Tak butuh waktu lama bagi Polri untuk menangkap Bripka Cornelius Siahaan ini. Anggota Buser Polsek Kalideres ini yang masih dalam keadaan mabuk langsung dibawa ke Polsek Kalideres tempat dia bertugas.

Menjadi pekerjaan rumah buat Polri untuk membenahi Psikologi anggotanya yang membawa senjata api, agar tidak mudah melepaskan tembakan. Baik itu kepada Warga Sipil seperti pada Kejadian Pembantaian KM50, dan juga terlebih kepada sesama Aparat Negara.

 

Inspektur Jenderal Fadil Imran menyesalkan peristiwa penembakan yang terjadi di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat pada Kamis dini hari tadi. Pelakunya diketahui merupakan anak buah Irjen Fadil yang ditugaskan di Polsek Kalideres

Irjen Fadil Imran juga meminta maaf kepada semua pihak atas perbuatan anak buahnya Bripka Cornelius Siahaan.

“Sebagai Kapolda Metro Jaya, selaku atasan tersangka, saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, kepada keluarga korban dan kepada TNI AD,” kata Fadil di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2021.

Peristiwa Oknum Polisi yang menembak Anggota TNI pada Kamis pagi 25 Februari 2021, menjadi sorotan banyak pihak. Terlebih yang menjadi alasannya adalah karena pelaku tak mau bayar saat ditagih membayar minuman keras.

Anggota Komisi III DPR RI, Santoso, meminta pelaku penembakan harus diberikan sanksi yang tegas. Pihak kepolisian juga tidak boleh ada uoaya melindungi anggota yang bersalah tersebut.

“Harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku tidak boleh ada ego masing-masing pihak untuk melindungi anggotanya yang bersalah,” kata Santoso, kepada VIVA, Kamis 25 Februari 2021

Santoso menyebut hal ini merupakan tantangan bagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan transparan. Hukum harus ditegakkan meskipun pelaku adalah seorang anggota Polisi.

Santoso meminta Kapolri membuktikan janjinya menghadirkan polisi yang presisi Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan (Presisi). Penegakkan hukum tidak boleh tumpul bahkan ke aparat sekalipun, jika melanggar harus ditindak.

“Jika salah hukum harus ditegakkan. Saatnya janji Kapolri Lystio Sigit dibuktikan bahwa hukum jangan hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Begitu pula dengan Panglima TNI jika anggota TNI juga bersalah meskipun militer memiliki peradilan sendiri maka proses peradilannya harus berjalan secara transparan dan berkeadilan,” ujarnya

Sumber : Kompas, Berita Satu, Media Online dan Investigasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button