Catatan RedaksiHukumNasional
Trending

Polri Gelar Perkara Unlawful Killing. Apakah Rekonstruksi Penyiksaan akan digelar Polri ?

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bakal meningkatkan status perkara dugaan pembunuhan di luar hukum (unlawful killing) / EXTRAJUDICIAL KILLING atas kematian 6 Laskar FPI di Jalan tol Jakarta-Cikampek pada 7 Desember 2020, yang ditembak dan jasadnya penuh dengan luka luka penyiksaan

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono menerangkan bahwa keputusan itu secara resmi diambil usai penyidik melakukan gelar perkara pada Rabu (10/3).

Dalam forum tersebut, penyidik gabungan dari Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) serta Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri akan turut terlibat dalam gelar perkara itu.

Apabila telah resmi naik penyidikan, maka kepolisian telah menemukan pelanggaran pidana dalam peristiwa berdarah yang terjadi akhir tahun lalu.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian Djajadi sebelumnya mengatakan bahwa penyidik mendalami pasal pembunuhan dalam perkara itu.

“Pasal 351 ayat (3) dan Pasal 338 (KUHP) tentang penganiayaan dan pembunuhan yang mengakibatkan mati,” kata Andi dihubungi wartawan awal Maret lalu.

Dalam insiden itu, diketahui empat Laskar FPI masih hidup sebelum polisi membawanya ke dalam mobil. Sementara, dua laskar yang lain telah meninggal saat ditembak mati sebelumnya.

Dalam jumpa pers 10/3, Karo Penmas Brigjen Pol Rusdi Hartono menjelaskan tentang adanya gelar perkara tersebut. Dalam sesi tanya jawab, salah seorang Wartawan menanyakan inisial dari 3 Oknum Polisi yang sudah ditetapkan sebagai terlapor.

Setelah menunggu respon dari Brigjen Pol Rusdi Hartono, Wartawan akhirnya hanya mendapat jawaban singkat “NANTI KITA CEK KEMBALI”.

Artinya hingga saat itu pun Polri belum berani mengumumkan ke Publik, Nama ataupun Inisial dari 3 Oknum Polisi yang ditetapkan sebagai terlapor.

Menjadi pertanyaan besar, mengapa Polri belum juga memberitahukan ke publik 3 nama Oknum Polisi yang melakukan pembantaian tersebut. Polri baru memberikan peryataan pada 4/3/2021, tentang terlibatnya 3 Oknum Polisi dalam Kasus Pembantaian KM50.

Dimana Tim kami sudah mempublish 3 Nama Oknum Polisi tersebut pada 4 Januari 2021, setelah Laporan Briptu Fikri Ramadhan yang terlibat dalam Pembantaian tersebut dibuat pada 7/12/2020 berhasil kami dapatkan. Dalam Laporan tersebut terdapat nama :

  1. Briptu Fikri Ramadhan sebagai PelaporĀ  – CP 085664608249

  2. Bripka Faisal Khasbi Alaeya sebagai Saksi – CP 081294634424

  3. Bripka Adi Ismanto sebagai Saksi.

Sementara info yang kami dapatkan dari dalam, ada 9 orang yang tengah diperiksa Internal Propam Polri secara ketat. Itu artinya masih ada 6 nama lagi yang belum dinyatakan terlibat oleh Polri. 3 nama yang sudah kami publish pada 4/01/2021, akhirya baru dinyatakan Polri pada 4/3/2021 bahwa ada 3 Oknum Polri yang terlibat Pembantaian KM50.

Publik masih menunggu Nama ataupun Inisial ke 3 Oknum Polisi tersebut, setidaknya Polri memberikan penghargaan kepada 3 Anggota Polisi tersebut. Karena pada awal Kasus Pembantaian KM50 ini muncul, mereka yang terlibat menembak mati 6 Laskar dianggap sebagai Pahlawan yang melawan Radikalisme dan Terorisme.

Namun harapan publik saat ini menjadi terbalik, karena Polri menetapkan 3 Oknum Polisi tersebut sebagai Terlapor dalam Kasus Pembantaian KM50. Dan sampai saat ini Polri belum juga memberitahukan 3 Nama atau Inisial tersebut ke Publik.

Berbeda halnya jika Kasus serupa atau Kasus lainnya, Polri dengan sigap memberikan Nama ataupun Inisial Pelaku. Dalam hal ini Polri terkesan sangat hati hati, ataupun kemungkinan mengatur strategi untuk mencari tumbal yang bisa dijadikan Terlapor.

Secara profesional Polri seharusnya melakukan gelar perkara dan merekonstruksi bagaimana penyiksaan itu terjadi, karena publik sudah banyak mengetahui ditemukannya banyak luka luka bekas penyiksaan :

  • Muka lebam

  • Mata tembus peluru

  • Kulit melepuh seperti terseret atau terbakar.

  • Kemaluan bengkak

  • Kulit Dubur melepuh

  • Kuku terlepas

  • Kepala retak

  • Kulit tangan terkelupas

Kecuali jika Polri menganggap bahwa luka tersebut bukan luka luka penyiksaan, dan polri hanya mengakui luka bekas tembakan dan menafikan adanya luka luka bekas penyiksaan.

Hanya Manusia berhati Iblis yang sanggup lakukan pembantaian tersebut, dan hanya Aparat bermental Iblis yang sanggup menolak adanya bukti bukti penyiksaan tersebut.

Apakah Polri berani melakukan rekonstruksi gelar perkara, bagaimana Anggota Polri yang terlibat Pembantaian KM50 tersebut melakukan penyiksaan kepada 6 Laskar.

Apakah akan keluar jawaban “NANTI KITA CEK LAGI”

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button